RSS

Explore Flores Bag 4 ( P Kanawa, P Gililawa, P Padar, P Komodo)

Hari 7-8-9 Sailing Komodo

Komodo hari 1
Jumat pagi, abis mandi tiduran di kamar, jam 06.00 tiba2 dinding dan plafon bergetar...kukira ada kendaraan berat lewat depan hotel...beberapa detik kemudian semakin keras getaran...tersadar klo itu adalah gempa..panik lah langsung lari...apalagi kamarku di lantai 2...semua orang pada kluar turun...ternyata tadi gempa 6,5 skala richer di pulau sumba.
 jam 09.00 kami berkumpul di dermaga, kita ber 6 + 3 awak kapal akan memulai perjalanan keliling komodo. 6 orang itu kebanyakan berasal dari jawatimur, haha. Langsung deh kita jadi akrab. Tujuan pertama adalah pulau kanawa, perjalanan sekitar 1 jam dari pelabuhan Labuan bajo. Sekilas namanya mirip dengan pulau kenawa di Sumbawa ya. Pulau kanawa sepertinya sudah dikuasai investor asing, kita dilarang mendaki bukit, kecuali mau bayar 100 ribu per orang. Emang disini terdapat penginapan milik bule. Bahkan dulu sempet diprotes warga Labuan bajo, gara2 masuk ke pulau inipun disuruh bayar 50 ribu, karna diprotes warga akhirnya dibuka untuk umum.





pulau kanawa

Lokasi ke 2 sebenernya adalah manta poin, namun setelah ada informasi dari kapal lain kalo lagi gak ada manta, akhirnya gak jadi. Dari kejauhan kita melihat pulau kecil berpasir putih dengan laut ijonya yang keren. Akhirnya kita mampir. Nama pulaunya takamakasar. Bener2 keren ini pulau. Air lautnya sebening Kristal. Memanjakan mata.



pulau takamakasar

Ke lokasi selanjutnya kita menuju pulau gililawa darat. Sekitar jam 3 kita menaiki bukit untuk liat view dari atas bukit. Panas matahari membakar kulit. Keringat bercucuran. Air aqua sebotol hampr habis. Kita ambil rute panjang dengan sedikit tanjakan. Sebenarnya kita akan melihat sunset di pulau kalong, tapi katanya kalong sudah bukan musimnya kali ini. Jadi kita bertahan di pulau gililawa darat sampek nunggu matahari terbenam, meski matahari ketutup mendung sih.





gili lawa darat

Abis magrib perjalanan dilanjutkan menuju homestay di pulau komodo sekitar 1 jam perjalanan. Selama perjalanan aku tiduran mengamati bintang2. Langit begitu cerah. Sesekali aku melihat bintang berekor jatuh/meteor…subhanalloh…sampek dermaga homestay komodo udah gelap. Selama 2 malam ini kita akan menginap disini. Perkampungan komodo ini sekitar berisi 200 kk. Mereka bekerja sebagai nelayan, pemahat kerajinan patung komodo, atau berdagang cenderamata komodo. Beberapa rumah sudah difungsikan untuk homestay. Ketika jalan pas malam, kadang ada rasa kawatir, gimana kalo tiba2 ada komodo nongol didekat kita..huaaa…menurut cerita ada 2 kali kejadian ada warga yang meninggal diserang komodo, pertama seorang anak…dan 1 lagi orang dewasa..pantas saja rumah mereka berupa panggung. Tapi kata warga dikampung ini gak ada komodo, jauh dibelakang bukit sana komodo berada.

Komodo hari 2
Jam 4 pagi terdengar suara azan subuh, tapi baru tersadar aku jam 04.30. mandi sholat trus menuju dermaga untuk melihat sunrise. Balik ke homestay untuk sarapan, jam 7 kita akan berangkat ke pulau padar.
selamat pagi...



pulau padar

Perjalanan sekitar 1,5 jam akhirnya kita sampai di pulau padar, dari dermaga sudah terlihat banyak perahu bersandar, rame banget sepertinya pagi itu. Untuk menuju bukit awalnya dibangun tangga kayu, tapi lama2 Cuma berbatu tanah. Cukup tinggi memang puncak view, tapi worthed lah usaha kita capek2 sampek atas, view yang begitu waow. Kita bisa melihat beberapa sisi pulau dan garis pantai. Cuaca hari itu cukup panas. Cukup lama kami di atas, apalagi kalo tidak karna antri foto2. Hampir 3 jam di padar. Jam 11 kita baru turun, trus lanjut ke loh liang untuk melihat komodo. Perjalanan sekitar 1 jam, kita sampai di gerbang bertuliskan taman nasinal komodo. Ada guide yang akan menemani kita untuk menjaga kita dari hewan buas komodo. Disini juga banyak kita jumpai hewan lain seperti rusa, babi, burung gagak. Dan memang rusa n babi merupakan makanan utama komodo, jadi berkembang alami, tidak ada perburuan. Kita gak jalan jauh sih, Cuma ketemu beberapa komodo, foto2, trus belanja buah tangan. Karna emang kita kelamaan di padar tadi.




Taman Nasional Komodo

Harusnya jam 12 makan siang di homestay, tapi molor sampek jam setengah 3 baru makan. Setelah makan kita menuju pantai namo, pink beach yang ada di komodo. Sayang langit sudah mendung gelap, sempet gerimis juga disitu, tapi pasir pantai ini benar2 dipenuhi butiran kecil2 koral berwarna merah.


pantai namo, pink beach



padar island


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Explore Flores Bag 3(Bajawa-Ruteng)


Hari -5
Pagi itu ternyata ke 2 temenku udah bangun duluan, mereka pamit mau ke desa bena duluan jam 6, sementara aku belom apa2, baru jam 7 siap kluar kamar. Akupun nyari sarapan, yang ternyata kebanyakan masih tutup warungnya. Akupun menghampiri salah satu tukang ojek yang ada diperempatan jalan. Tawar menawar akhirnya dapat 100 untuk nganter ke desa dat bena dan air terjun ogi. Aku Cuma punya waktu setengah hari sampek jam 12. Jam 1 siang kami harus ke ruteng.

Jalan menuju desa bena aku bisa melihat gunung inerie dari kejauhan, gunung dengan ketinggian 2200 mdpl ini masih aktif, dikaki gunung masih banyak terdapat rumah adat. Aku lupa nama2 rumah adat, tapi yang paling terkenal adalah desa adat bena. Berjarak sekitar 20 km dari kota bajawa. Dan disitu aku bertemu dengan 2 orang temenku tadi, dia nyewa motor dari depan penginapan.






Tiket masuk rumah adat bena ini seharga 20 ribu. Kebetulan mulai dari kemarin dan siang nanti ada upacara adat reba. Tapi sayang aku gak bisa lama2 didesa adat bena, nunggu pelaksanaan misa aja lama banget jam 9 baru mulai, dan ternyata temenku nungguin jam 12 masih dimulai acara tari2 an, padahal harus segera out dari bajawa ke ruteng.

background gunung inerie



nyembelih babi
bersama anak2 bena

hasil tenun

persiapan misa

Dari desa bena aku mampir ke panorama manulalu , dari sini kita akan bisa melihat secara luas gunung inerie. Gak lama kami menuju air terjun ogi. Air terjun ini sebenernya Cuma 5 km dari kota klo dilihat dari google map. Tapi kenyataannya jalanan berliku liku, masuk kampung dan sawah2. Bahkan tukang ojek Cuma nganterin dari jauh, katanya air terjunnya angker, terpaksalah aku jalan 20 meter ke depan sendirian. Disini gak ada tiket, dan agak ada orang sama sekali. Padahal menurutku air terjunnya lumayan lah. Cuma kurang dikelola dengan baik.
air terjun ogi

view dari manulalu



Jam 12.00 aku packing dan cek out, nunggu temen dari bena tadi. Jam 1 travel udah jemput. Cuma kita ber 3 saja sih penumpangnya. Mobil langsung jalan ke ruteng, beberapa kali sopir nurunin dan ambil barang. Perjalanan selama 4 jam seharga 100 ribu bajawa-ruteng. Jalanan masih sama, seperti kontur flores pada umumnya yang berbukit-bukit. Apalagi kota ruteng berada ketinggian 1600 mdpl. Mereka ber 2 memutuskan nginep di hotel rima, akupun ikut mereka. Ternyata ada sekamar 100 ribu include sarapan. Mayan lah ya. Penginapan hotel rima ini cukup terkenal. Model bangunan dari kayu. Staf yang sangat ramah dan membantu tamu. Ketika aku mengutarakan keinginanku klo aq Cuma punya waktu setengah hari sampek siang dan harus ke Labuan bajo, mereka dengan sigap memberi informasi tujuan mana aja yang deket kota ruteng, menawarkan sewa motor 50 ribu, dan menelponkan travel untuk ke Labuan bajo.

Hari -6
Pagi itu ternyata ke 2 temenku sudah cek out pagi2 buta, jam 4 menuju waerebo. Sementara aku gak ada waktu ke waerebo. Terlalu jauh klo motoran 3 jam ke denge dan traking 3 jam. Coba jadwal komodonya bisa diundur 1 hari pasti aku bisa ikut mereka ke waerebo. Ok lah maybe next time ke waerebo.
Setelah sarapan beberapa potong roti, telur ceplok dan secangkir teh. Akupun ambil motor untuk keliling ruteng. Yang pertama kukunjungi adalah ruteng puu. Rumah tradisional ruteng yang Cuma berjarak 5 km ini sekilas mirip atap rumaha adat waerebo, beratap melingkar kerucut atap jerami.




bapak yang punya rumah...lupa namanya ..hihi


Pagi itu aku disambut bapak2, aku disuruh ngisi buku tamu, dan kasih sumbangan sukarela, aku kasih 20 ribu, secara desa adat bena juga segitu.
Awalnya aku Cuma foto2 bagian depan, pas mau beranjak pergi ada bapak2 sarungan menghampiriku, bertanya darimana dik..dan dari situ aku tau itu bapak yang punya rumah tradisional itu. Bapak itu mempersilakan aku masuk, sambil beliau bercerita tentang rumah adat. Bagian dalam rumah dibuat sekat2 kamar, sementara di bagian tengah terdapat alat kendang. Itulah kenapa rumah adat ini disebut mbaru gendang. Alat music ini dulunya digunakan untuk mengumpulkan warga ketika ada acara tertentu. Dibagian luar rumah adat ada lingkaran batu2 itu adalah makam leluhur mereka, kadang diadakan upacara adat tiap acara2 tertentu.

Dari rumah adat ruteng puu, google mapku set menuju spider cancar, yaitu sawah tradisional yang pembagian wilayahnya membentuk jaring laba2. Berjarak sekitar 20 km.
Dari parkiran kami menanjak 100 m. dari atas bukit kita bisa meihat beberapa modul jaring laba2 dengan background perkampungan dibukit dibawah langit biru.



Setelah puas panas2 an diatas bukit aku kembali ke kota ruteng. Sesekali berhenti di air terjun pinggir jalan. Menyusuri kota ruteng yang banyak bangunan gereja2 tua. Trus balik ke penginapan jam 11.
Awalnya sih aku pesen travel jam 1. Tapi setelah aku tahu jam 11 dah balik, staf penginapan menawarkanku apa mau berangkat sekarang juga ke Labuan bajo. Akupun meng iya kan. Toh aq jg dah packing tinggal ambil tas.


Dan dimulailah drama dari mobil travel. Belum jauh meninggalkan kota ruteng, kami diturunkan oleh sopir, dengan alasan kampas rem mobil habis. Terpaksa harus dipindah ke mobil lain. Sempet ada yang protes sih. Agak lama ibuk2 mau masuk ke mobil lain, aku sih apa mau dikata, ikut aja. Yang penting kan sampek Labuan bajo. Dan ternyata ada 1 penumpang yang ngejar pesawat ke Labuan bajo. Karna penumpang dibawah udah sesak, barang2 ditaruh atas. Dan cuss..wuzzz…si sopir ngebut banget jalannya..gak peduli itu jalanan berliku liku berbukit bukit…salip menyalip…demi 1 penumpang yang ngejar penerbangan..emang sih tadi berhenti cukup lama gara2 oper mobil lain. Dan tragedy dimulai…saking kencengnya..pas melewati jalan gak rata..koper salah satu penumpang jatuh terguling guling…si ibuk yang punya koper berubah seperti mak lamir yang cerewet…ampun koper mahalku rusak..hancurlah barang2 nya…setelah mobil berhenti dan koper diambil..emang sih ada beberapa bagian sobek tapi masih kelihatan kokoh..entah barang didalamnya gimana…si ibuk itu tidak terima..mintak ganti rugi 1 juta..bilang ke si sopir..si sopir juga gak mau disalahkan..akhirnya mereka ribut adu mulut…saat mobil melaju kencang 100km/jam dijalanan berbukit2. Penumpang lain termasuk aku Cuma komat kami semoga nyampek Labuan bajo dengan selamat. Si buk itu tetep ngoceh gak terima..pokoknya mau lapor polisi kalo gak mau ganti rugi…akupun pusing dengerin mereka ribut..pasang hetset setel music keras sambil mulut komat kamit, sesekali kepalaku kejatuhan barang yang ada di belakang…aduh..si ibuk tadi sepertinya cukup terhibur melihat nasibku..duh kasian masnya..bilangnya..hadehh

Setelah nganterin penumpang ke bandara kini mobil bisa berjalan santai, dan permasalahan ibuk itu dah selesai, akan diganti rugi mobil travel sebelumnya yang ngoper. Akupun turun dari mobil di penginapan hotel pelangi, berasa mual2 bukan mabuk, tapi berasa keder kakiku lepas dari sopir maut.
Dipenginapan hotel pelangi ini range harga 60 ribu-400 ribu. Aku pilih yang paling murah. Dan ternyata kamarnya not bad lah, sebenernya bisa muat 3 orang tidur, ada 1 ranjang besar dan 1 ranjang kecil, partisi antar ruangan kayu, kamar mandinya di luar, airnya payau, tapi masih oke lah sabun masih bisa berbusa.

Abis dari tempat ketinggian yang dingin, moni-bajawa-ruteng…kini berada di pinggir laut yang panas, anginpun jarang bertiup.

Abis mandi akupun keliling pelabuhan nyari makan. Makan ayam bakar dan jus mangga abis 50 ribu, haha..mahal…sorenya aku Cuma duduk2 di dermaga nunggu sunset.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Explore Flores Bag 2 ( Danau Kelimutu)



Pesawat ke ende lagi2 delay 1 jam. Akhirnya sampai di ende jam 16.30. terlalu sore untuk mencari kendaraan umum. Mengingat ini masih Suasana libur natal. Akupun mondar mandir gak jelas didepan bandara ende. Ada 1 tukang ojek yang mengikutiku terus dari tadi. Bilang apa mau dianterin ke terminal nyari bus..tapi bus mgkin lum beroperasi..atau nginep dulu di ende..baru besok diantar ke kelimutu pagi2..atau diantar langsung sekarang ke kelimutu…aku pun bingung..gak ada temen untuk diajak diskusi klo seperti ini, mengingat hari tambah semakin sore. Aku harus sampai di moni, pikirku. Akupun mengiyakan kata bang ojek untuk diantar ke moni motoran seharga 150 ribu, selama dijalan aku sempet menyesali keputusanku. Begitu mahal ongkos yang harus aku bayar. Dan aku harus menggendong ransel 8 kg dipunggung selama 1,5 jam dijalanan ende-moni yang berbukit bukit sangat melelahkan.apalagi sore itu hujan, aku sempet bilang ke abang ojeknya..bang..pakai mantel dulu..karna abangnya cm pake 1 mantel..aku kluarin lah mantel plastik…dan gak dipakein helm..gimana tuh rasanya naek motor pake mantel plastik yg berkibar kibar tanpa helm dijalanan yg berliku2..duh aku Cuma mikir..kamu harus kuat har..harus strong..mengingat badanku lum fit…sempet menahan mules dijalan..

Alhamdulillah penderitaan itu selesai sudah setelah aku sampai di penginapan, Palm Bungalow. Sebelumnya ada dah telpon di ende tadi, mengenai kesediaan kamar kosong. Seharga 150 ribu. Udah sore gak sempet nyari homestay yang murah. Udah kedinginan, mules. Ngobrol2 sama mas yang jaga cottagenya. Pesen makan apa. Aku pesen nasi telur dadar n sayur kangkung aja. Violaa…makanan yang datang seperti jamuan menu untuk 2 orang. Masing2 diletakin dipiring sendiri. Yakin nih habis??…tapi ternyata habis loh, meski dikata badanku gak fit gak doyan makan..haha..kelaperan ternyata…kata masnya beras dan sayurnya hasil ditanam depan rumah loh, beras merah yang ternyata enak, oseng kangkung yang yummy..telur dadar anget yang besar nikmat..mantap deh makanan seharga 20 ribu ini, gak usah susah2 nyari diluar.

Malamnya ternyata aku susah tidur. Ada beberapa sebab, pertama aku tinggal di rumah kecil sendiri paling pojok, dan lokasi penginapan ini gak dipinggir jalan, tapi masuk ke dalam sawah kek hutan gitu, berasa horror aja kalo matiin lampu melihat ke sudut ruangan..hii…factor ke 2…ada beberapa laba2 besar…aku takut ma serangga berkaki 8 ini..mereka berkeliaran ditembok dengan bebasnya…akhhh…
Yang terakhir adalah anjing di depan rumah yang berisik, ada sekitar 2 anjing tidur di depan rumah kayu. Berisik banget deh tingkah mereka…duk duk.duk…naek ke atas meja dan gedor2 pintu…alhasil aku Cuma tidur bentar, paling Cuma 3 jam..jam 3 aku sudah kebangun.

Hari -4
Melihat keluar. Wih..banyak bintang2…cuaca cerah…sama suara desiran air atau angin entah darimana..keras banget seperti suara air terjun…abis ganti baju nungguin mas yang jemput aku jam 4 pagi ke kelimutu liat sunrise. Jam 4 lebih tampak masih sepi, gak ada tanda2 mas ojek. Akupun gedor2 pintu sebelah, bangunin orang tanya kok lum ada ojeknya. Nungguin 20 menit barulah kita berangkat ke kelimutu jam 04.30. berasa udah agak siangan deh.
Jalanan menuju parkiran kelimutu selama 40 menit. Gelap dan dingin, jalanan juga sepi. Bahkan sampai parkirpun sepertinya aku gak ada temen jalan ke atas danau. Duh mana gelap pula naikin tangga harus pake senter. Dengan tiket 7500 per orang.



maaf penuh mukaku..saking antusiasnya..xixi..

Sesampainya diatas gak terlalu rame sih. Kata orang dipenginapan memang ini bukan waktu kunjungan turis bule, normalnya rame juli-oktober. Matahari juga malu2 muncul, ketutup awan. Angin diatas berasa kenceng banget. Aku ketemu sama ricky dan pacarnya. Mereka dari sidoarjo. Yach inilah temen jalan yang nantinya akan menemaniku selama turun ke ende-bajawa-ruteng.
Danau kelimutu ini berada pada ketinggian 1600 mdpl. Terdapat 3 danau yang warnanya bisa berubah2 sepanjang tahun. Tercatat sudah berganti warna sebanyak 44 kali sejak tahun 1940 an. Bagi warga sekitar danau ini bernama tiwu telu, tempat para arwah leluhur mereka. Pas aku kesitu warnanya hijau toska, hijau keputihan dan hijau lumut/gelap. Dilembar uang 5 ribuan lama saat itu kelimutu berwarna merah, putih dan biru. Entah kenapa warna danau ini berubah ubah. Dan memang danau ini merupakan kawah gunung berapi yang masih aktif. Mungkin karna aktivitas dibawah magma yang mempengaruhi warna danau.
Jam 7 aku turun dari danau ke parkiran. Bilang pada abang ojeknya untuk mampir di desa adat koanara. Jalanan turun dari danau ini sungguh indah, kalo tadi pas berangkat kagak keliatan sama sekali karna gelap, sekarng bisa melihat perbukitan hijau dikanan kiri jalan.



Rumah adat koanara sepertinya sudah terhimpit dengan pemukiman modern, lokasinya pun nyempil di ujung dari pasar tradisional. Kulihat banyak ibuk2 mendominasi jualan dipasar sambil bibir mereka merah karna makan pinang. Jalanan di depan pasar otomatis juga macet semrawut.
Rumah adat ini sepertinya Cuma difungsikan sebagai tempat menyimpan barang atau event2 tertentu, sudah tidak ada aktivitas lagi. Yang ada malah kerumunan anjing mengonggong nguber aku. Akupun panic ketika ada 4-5 anjing mendekatiku seakan mau menggigit. Trus ada mbak2 kluar dari rumah suruh anjing itu diam. Duh malu aku diliatin bapak2 dari kejauhan. Emang disana anjing adalah hal biasa jadi piaraan, kadang juga babi.
suasana depan pasar

Jam 8 pagi aku bersiap cek out. Minta disediakan sarapan dulu, ternyata ibuknya lagi ke pasar. Terpaksa Cuma diisi segelas teh hangat doang. Itupun aku masukin botol, mengingat tehnya masih panas. Akhirnya aku diantar ke depan gang jalan, untuk menunggu bus menuju ende atau sekalian bajawa. Sejam nunggu gak ada bus atau mobil travel. klo adapun itu angkot yang penuh orang sampek naek ke atas mobil. Akupun berjalan sambil mencari sarapan. Tiba2 ada bapak2 menghampiriku, bilang apakah mau ke ende pake mobilnya, bayar 50 ribu saja, nanti ada 2 penumpang lain lagi. Akupun mengiyakan, mengingat aku dah putus asa kelaparan dan kepanasan nunggu gak ada bus. Akupun dianter nyari sarapan dulu, sambil nunggu 2 temen lainnya
sarapan...

. Dan ternyata 2 orang itu yang aku temuin dikawah kelimutu tadi, namanya ricky, nama pacarnya lupa. Akhirnya aku akan bareng mereka menuju ende numpang mobil bapak itu yang memang kebetulan juga mau ke ende ada urusan, lumayankan nambah uang bensin 150 ribu untuk 3 penumpang. Aku begitu menikmati perjalanan dari moni ke ende, kemarin boro2 mau nikmatin, sudah mules duluan perut naek ojek kedinginan. Disamping kiri bukit, beberapa ada air terjun. Sesekali kita ngobrol, sama pak sopir dan 2 temen baru. Sesekali bapaknya minta istirahat di pinggir jalan, sepertinya kelelahan, lumayan bisa beristirahat sebentar nglurusin kaki, tepat disamping warung ada sungai yang mengalir cukup menyejukan mata.
istirahat dulu...

Setelah 2 jam akhirnya mobil sampai di ende. Langsung ke terminal untuk nyari bus ke bajawa. Sayangnya bus yang ada di depan gak sempet terkejar, ketinggalan bus deh. Yaw dah kita nunggu di luar terminal, kebetulan lokasinya berhadapan dengan pantai ende.
Beberapa kali ada mobil dan angkot yang berhenti di depan kami, ternyata tujuan terakhir bukan bajawa. Sampai akhirnya setelah 30 menit bus ke bajawa datang, cukuplah mengangkut 3 penumpang. Sesampainya didalam ternyata ada yang mengajak aku ngobrol, klo dia orang bajawa yg kuliah di Surabaya. Dia sepertinya gak ada habisnya ngobrol, padahal mulutku udah kering melayanin dia ngobrol, ditambah persediaaan air di botol tinggal dikit, duh bisa dehidrasi aku, apalagi bus mini ini menurutku terlalu keras nyetel lagunya, bikin pusing, apalagi kalo ngobrol seperti orang ngajak ribut, teriak2. Total perjalanan 5 jam dari ende ke bajawa. Kami dianter ke penginapan virgo. Aku dibilangin sih klo bayar bus 50 ribu aja. Eh temenku 2 orang td disuruh bayar 70 ribu. Aq bilang kan biasanya 50 ribu bang…yaw dah deh daripada ngajak ribut kukasih 70 ribu. Akupun langsung nyebrang ke penginapan. Beruntung masih ada kamar kosong. Yang harga 110 udah abis. Tinggal 150 ribu dengan kamar mandi dalam. Oke lah aku ambil. Masuk kamar trus mandi..dan airnya brrr….duingin euy…kota bajawa ini berada di ketinggian 1100 mdpl..pantes airnya dingin banget. Tanpa ac pun tidur selimutan masih kedinginan. Akupun jalan2 sambil nyari makan, ternyata kota bajawa gak terlalu besar, dan gak ada gedung2 tinggi. Nyari makan padang 15 ribu plus minum es teh. Setelah solat aku bertanya ke cafĂ© depan penginapan, disini menyewakan motor, dan ada kontak mobil travel untuk besok ke ruteng.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS